Kategori
Blog

Akhirnya Aku Kena Covid19

Tepat tanggal 24 Juni 2021, aku mengalami banyak gejala secara bersamaan seperti pusing, batuk, demam, nyeri sendi, mual, diare dan lemas. Pusing dengan sensasi berputar seperti vertigo ringan. Batuknya berdahak sampai bikin dada sakit disertai panas tenggorokan. Suhu demam tidak terlalu tinggi sekitar 38C. Nyeri sendi disekujur tubuh terutama tangan dan kaki. Rasa mual disertai mulut yg super pahit sampai susah makan sesendok nasi dan sesuap roti. Diare memaksa ke kamar mandi 4 sampai 6 kali dalam sehari. Rasa lemas untuk berdiri dan berjalan. Beneran rasa sakit yang luar biasa karena aku tidak pernah mengalami gejala tersebut secara bersamaan dalam 20 tahun terakhir.

Beberapa obat yg kubeli di apotek tidak ringankan salahsatu gejala tersebut dan akhirnya kuputuskan ke rumah sakit swasta karena sudah terlalu sore untuk ke puskesmas. Sesampainya di IGD Rumah sakit, aku discreening mulai tekanan darah, detak jantung dan saturasi oksigen tapi alhamdulillah semua normal seperti saturasi oksigenku yg masih 96-98. Setelah itu aku menuju kasir utk daftar berobat tapi ternyata antriannya sangat panjang diiringi suara batuk yg saling bersahutan, jd berasa satu kampung sakit semua. Screening dan konsultasi dokter dilakukan di dalam tenda parkiran RS karena jumlah pasien membludak. Hampir 2 jam aku baru dapat giliran berkonsultasi ke dokter padahal badan sudah lemas banget untuk jalan.

Dengan semua gejala yang kualami, dokter mewajibkan untuk tes PCR hari itu juga tapi aku sempat tanya kenapa tidak tes antigen aja dan si dokter menjawab kalau swab antigen bisa salah positif atau salah negatif terhadap kondisiku saat ini. Selesai berkonsultasi, dokter memberi obat sesuai gejalaku dan berikut daftarnya:

  • Azithromycin Dihydrate 500mg (Antibiotik isi 7tablet). 1x sehari 1tablet setelah makan.
  • Codipront Cum Expectorant 100mg (isi 14 kapsul). 2x sehari 1kapsul sesudah makan, bila batuk.
  • Vometa FT Domperidone 10mg (isi 8 tablet). 2x sehari 1tablet sebelum makan, bila mual atau muntah.
  • Sanmag (Obat lambung isi 10tablet). 3x sehari 1tablet sesudah makan.
  • Surbex Z (Multivitamin isi 10 tablet). 1x sehari 1 tablet sesudah makan malam.
  • HI-D Cholecalciferol 5000 IU (Vitamin D isi 10tablet). 1x sehari 1tablet dan dikunyah.
  • Interlac Biogaia (Probiotik isi 8tablet). 2x sehari 1tablet dikunyah.

Kemudian aku kembali kasir untuk bayar semuanya, walau sempat dibikin lama oleh pihak asuransiku yg tanyakan detil analisa dokter agar tes PCR ku bisa ditanggung asuransi. Setelah urusan kasir beres aku menuju bilik tes PCR dan pulang. Di rumah aku minum semua obat sampai suplemen dari dokter dan memutuskan isolasi mandiri di ruang kerja agar jauh dari anak istri.

Keesokan harinya badan makin terasa lemas dan gejala lainnya juga tidak berkurang. Malam harinya aku dapat kiriman file pdf terkait hasil PCR yang menyatakan aku positif dengan Gen n2 CT 15.33 dan Gen ORFlab CT 16.01. Tapi yang bikin paling sedih adalah harus menjauh dari keluarga apalagi istri baru lahiran caesar sehingga geraknya masih terbatas untuk ngurus 3 anak.

Ternyata gini rasanya kena covid19. Belum ada perkembangan kesehatan yg berarti setelah lalui 5 hari sampai berat badanku turun 6kg karena susah telan makanan. Akhirnya kuputuskan berkonsultasi ke dokter lg dengan bawa hasil PCR yg kemudian dokter memberiku obat tambahan seperti :

  • Fujifilm Avigan 200mg (Antivirus isi 52 tablet). Hari pertama 8tablet pagi hari dan 8tablet malam hari. Hari kedua dan seterusnya 3tablet pagi hari dan 3tablet malam hari.
  • Indexon Dexamethasone 0.5mg (Obat Radang isi 10tablet). 3x sehari 1tablet sesudah makan.

Dengan nada tegas sampai didengar pasien lain, dokter menyuruhku untuk konsumsi banyak protein, buah, sayur, menjauhi pedas dan mengurangi minuman manis. Walau aku tampilkan daftar obat dan cara minumnya di blog ini, mohon untuk tidak membelinya tanpa resep ya karena hanya dokter yang bisa pahami kondisi kita dan bukan penjual obat.

3 hari kemudian mulai ada perkembangan dimana demam hilang, batuk sudah berangsur reda, dahak bisa keluar lancar tanpa rasa sakit di dada dan panas tenggorokan jg hilang. Buang air besar juga mulai normal. Nyeri sendi sudah mulai berkurang. Mual hilang dan selera makan mulai meningkat. Tapi masih ada gejala pusing vertigo ringan, badan lemas dan keringat dingin. Dengan keadaan tersebut aku terpaksa bantu istri untuk ngurus anak dengan memakai masker dobel, kain penutup muka dan faceshield. Aku mulai makan 2 telur rebus tiap hari, buah apel dan minum jerus nipis panas tiap pagi.

3 hari kemudian makan sudah lancar dan mudah lapar. Aku mencoba beli makan bebas seperti bebek penyet, ayam penyet, bakso, pecel dll. Pusingku sudah hilang tapi masih sedikit lemas, sedikit nyeri sendi di telapak tangan dan mudah lelah. Aku mulai bermobil keliling kota menghilangkan kebosanan sekaligus berjemur. Ternyata jalanan Surabaya terlihat lebih lengang dari biasanya krn mungkin efek dari PPKM. Media juga beritakan peningkatan kasus positif dan banyaknya kematian covid19 di Surabaya. Dan sedihnya lagi, tiap hari aku menerima berita duka dr teman dan saudara, bahkan sudah 2 teman seumuran yang meninggal selama aku sakit.

2 hari kemudian lemasku sudah hilang dan badan terasa lebih fit tapi masih ada sedikit nyeri di telapak tangan. aku coba untuk tes antigen di lab swasta dan alhamdulillah hasilnya negatif tapi tanpa sadar beratku sudah turun 8kg dalam 2 minggu. Rasanya senang bisa kumpul lg bersama anak istri dan meninggalkan ruang isolasi. Alhamdulillah ada pengumuman dr pemkot kalau puskesmas Surabaya buka 24jam sehingga aku hubungi puskesmas di sore hari untuk laporkan diri bahwa aku pernah positif covid, kemudian dokter puskesmas memberi konsultasi gratis via WA di malam harinya sekaligus merekomendasikan tes PCR gratis di puskesmas. Ternyata antrian panjang banget saat tes PCR di puskesmas sampai harus nunggu 2jam-an untuk swab dan sayangnya hasilnya harus nunggu 7-10 hari karena keterbatasan alat. Sampai tulisan ini dibuat, aku belum terima hasilnya tapi harapanku adalah dapat surat keterangan bebas covid dari puskesmas agar bisa jadi donor plasma konvalesen.

Itulah sedikit cerita rasanya kena covid19. Walau gejala yg kualami seperti digebukin sekampung, tapi aku bersyukur tidak mengalami gejala yang lebih parah seperti sesak nafas sampai butuh tabung oksigen. Aku mohon kepada kalian agar jangan remehkan covid19 ini dan kurangi baca hoax dari sumber yg tidak jelas. Pandemi ini tidak akan selesai dengan hanya berdoa, tapi bisa menurun jika kita juga ikhtiar bersatu taat prokes seperti :

  • Selalu pakai masker dobel terutama di ruangan atau kabin
  • Sering cuci tangan dgn air sabun atau alkohol
  • Jaga jarak dan jauhi kerumunan
  • Kurangi aktivitas di ruang publik yg minim ventilasi
  • dan manfaatkan program vaksinasi gratis dari pemerintah.

Mungkin kalian kebal covid19 tapi tidak dengan orang2 yang dekat kalian, jadi mari kurangi EGO dan utamakan kesehatan bersama. Semua manusia memang ditakdirkan mati cepat atau lambat, tapi jika masyarakat mengalami sakit menular secara masal akan merepotkan nakes dan melumpuhkan layanan faskes. Percayalah kena covid19 itu nggak enak banget dan semoga kalian selalu diberi kemudahan sehat dan panjang umur sekeluarga. Cerita pengalaman kena covid ini bukan untuk menakut-nakuti tapi sebagai motivasi untuk jaga kesehatan demi kemanusiaan.